Menatap Masa Depan


Sore ini kala penulis iseng- iseng browsing internet, terlintas suatu ide dalam benak , yakni membuat Blog. Sebetulnya, keinginan untuk membuat blog pribadi sudah sejak lama direncanakan, akan tetapi selalu tertunda dan ditunda karena males (hehe...). Untuk mengawali peradaban dalam blog, penulis mencoba untuk berbagi sesuatu dengan Grand Tema "Masa Depan". Mengapa? Dalam usia yang relatif mapan seperti usia penulis sekarang ini (24 tahun), agaknya masa depan bisa jadi adalah hal yang merisaukan dan menggalaukan. Bener ora? haha..mudah-mudahan iya....

Sebelum lebih jauh berbagi kegalauan, penulis ingat pernah memosting status di facebook 2 tahun lalu saat masih studi S-1 yang kira- kira seperti ini:
"......usia 20-an adalah usia yang mana kita sudah tahu mau kemana dan menjadi apa"
Namun, apakah iya demikian?

Yang Ada di Alam Pikiran

Wisuda sarjana atau diploma atau semacamnya memang menjadi impian bagi setiap mahasiswa yang tengah menyelesaikan tugas akhir. Dalam potongan lirik lagunya yang berjudul Mimpi Menjadi Sarjana, Rocket Rockers mengatakan:

Ku berharap merangkai asa.....
Dan tetap untuk mendapatkannya...
Ku mencoba dan terus mencoba...

Ku berdoa pada Yang Kuasa ....
Agar lulus tepat pada waktunya...
Mimpiku 'tuk menjadi sarjana....
Segera..........

Yang dapat penulis ringkas dari lagu tersebut, lulus studi merupakan mimpi yang wajib di wujudkan. Tidak hanya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada orangtua, akan tetapi juga pada diri sendiri. Selain itu, kelulusan dapat menjadi parameter keberhasilan seseorang dalam studi, terlepas berapapun nilai yang kita peroleh. Acara pelepasan dan wisuda pun menjadi euforia yang layak untuk di nantikan. Akan tetapi, setelah wisuda kita mau apa dan kemana?

Bagi yang telah merencanakan tentu akan fokus pada tujuan awal dan bagai memegang SOP, pasti ia akan terorientasi pada suatu instansi atau perusahaan untuk mewujudkannya. Tapi bagi yang belum punya rencana, usaha untuk memasukkan lamaran ke berbagai instansi atau perusahaan (sudah semestinya) tetap di lakukan.

Namun terkadang, rencana bisa jadi tidak sesuai apa yang kita harapkan. Tentu saja, ini sudah masuk dalam skenario Tuhan, yang dalam istilah agama penulis di sebut sebagai Qodo dan Qodar.

Adalah sah-sah saja, bahkan harus untuk kita menentukan tujuan untuk masa depan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Penulis sendiri memiliki cita- cita untuk menjadi abdi negara dalam posisi Jaksa/ Penuntut Umum karena selain sesuai dengan background pendidikan Penulis, Jaksa/ Penuntut Umum (Pegawai Negeri Sipil) sangatlah ideal dan merupakan kebanggan tersendiri karena nantinya kita akan bekerja mengabdi dan mewakili negara dengan setengah sukarela. Kira- kira setara dengan para atlet yang berlaga di pentas Nasional maupun Internasional itu. Dan penulis berangan- angan suatu saat nanti Penulis bisa menjadi bagian dalam institusi pengawas seperti KPK sebagai Jaksa KPK yang tugasnya mendakwa dan menuntut Terdakwa dalam perkara Tindak Pidana Korupsi dengan hukuman  maksimal. Sangar mbok....hehe...

Seiring berjalannya waktu, ujian seleksi CPNS yang notabenenya sebagai pintu masuk, malah ditiadakan akibat dari adanya moratorium, Parahnya, beberapa situs yang mengatasnamakan atau membawa embel- embel rekrutmen PNS seringkali berdusta yang kemudian menambah kegalauan karena ternyata apa yang di janjikan, malah tidak ada. What a Bl**dy Hell....

Dan buah akibat hal tersebut, kini Penulis berencana banting stir (halah) ingin menjadi seorang Legal Officer perusahaan/ perbankan atau berkarier di Lembaga Bantuan Hukum atau apa saja yang penting masih dalam koridor ilmu hukum. Dan kini untuk menuju itu semua, Penulis memilih untuk menimba ilmu dan pengalaman di sebuah Kantor Hukum di Cilacap milik Pak Sugeng Anjili, S.H.,M.H dengan masih menatap masa depan yang masih kabur dan perlu waktu lama dalam prosesnya...

Yang Senyatanya

Terlepas dari pengalaman pribadi Penulis, nampaknya kegalauan yang tengah di alami Penulis juga di alami oleh sebagian besar kawan- kawan pembaca. Yah, tuntutan orang tua dan...apalagi kalau sudah memiliki pacar (pacar disini, walaupun "milik", tapi jangan samakan dengan obyek hukum ya yang bisa di sewakan atau diperjualbeli. Hehe :D) pasti akan lebih menjadi beban pikiran kalau pekerjaan belum di dapatkan. 

Pastinya setiap pekerjaan akan memiliki resiko dan konsekuensi, entah itu dalam prosesnya yang berliku atau pada saat bekerja karena dunia kerja itu sangat keras dan tidak seindah yang di bayangkan pada saat kuliah. Tidak hanya itu juga terkadang kita masih banyak memilih dalam menentukan tempat dan posisi, kebanyakan memilih yang sesuai dengan gaji sarjana dan enggan bekerja dengan tanpa pamrih dan berorientasi pada pengalaman dan ilmu. Tapi kalau terlalu banyak memilih, tentu bukan hal yang baik karena setiap hari waktu terus berjalan dan usia juga semakin tua. Tentu rintangan tidak hanya dari internal saja seperti tadi itu, tetapi juga dari luar (eksternal), misalnya seperti teman atau sanak saudara yang hobinya ghibah atau ngerasani kehidupan dan karier kita. Seringkali mereka mengukur penghasilan sebagai standar "kebagusan" atau kesejahteraan tanpa memedulikan atau mau tahu terhadap proses yang akan atau sedang kita tempuh. Bagi mereka, gaji sarjana adalah suatu hal mutlak dan bila kita tidak memilikinya maka sindiran, cibiran dsb akan meluncur dari bibir indah mereka, seperti misalnya............(kawan- kawan bisa bayangkan sendirilah.hehe..)

Bagi kita semua yang tengah berjuang (termasuk penulis sendiri) teruslah bermimpi dan fokus untuk mewujudkannya. Segera tentukan arah dan pilihan. Jika masa depan adalah hari ini, maka bekerjalah dengan maksimal dan tanpa pamrih karena balasannya akan setimpal, entah itu berupa material maupun inmaterial pasti akan ada. Anggaplah sindiran dan cibiran sebagai motivasi agar kita lebih semangat dalam menggapai cita dan cinta karena masa depan di tentukan oleh diri sendiri, bukan orang lain. 

Cilacap, 19 Agustus 2016
Diketik menjelang tutup kantor




[1] Oleh Luthfi Kalbu Adi. Pemuda yang tengah bergelut  dengan kegalauannya

Komentar

  1. Dengan membaca postingan ini saya sungguh sungguh merasa memliki nasib yang sama. sekiranya tulisan ini dapat memberikan secercah motivasi bagi saya. terimakasih. hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer